Selasa, 19 Juni 2012

I'm tired


Lelahnya aku, sangat lelah ketika aku harus menghitung waktu untuk melupakanmu. Namamu dipikiran dan hatiku seperti nama yang telah terukir dibatu yang sulit untuk terhapus walau badai menerjangnya. Andaikan namamu hanya seperti tertulis di pasir, aku yakin melupakanmu takkan sesulit ini, takkan sekeras ini dan takkan memerlukan perjuangan seperti yang ku lakukan saat ini. Kamu itu seperti penjajah dimasa sebelum kemerdekaan, dan aku adalah Indonesia. Begitu sukar rasanya mengusirmu, apakah aku harus seperti Indonesia, yang membutuhkan waktu selama 365 tahun dulu untuk merdeka darimu?
          Semakin keras aku mencoba, bukan semakin mudah bagiku namun semakin berat rasanya. Jangankan untuk melupakanmu, berhenti untuk peduli padamu pun aku tak sanggup. Dan Walaupun air mata telah mengalir deras, namun belum dapat menghapus sesakku. Belajar melupakanmu seperti membawaku kembali mengingat bagaimana saat aku belajar menaikki sepeda. Sering aku terjatuh namun aku kembali bangkit. Terus mencoba hingga aku bisa seperti itulah yang ku harapkan.
Namun aku hampir lupa, bagaimana untuk tersenyum seperti bersamamu dulu, bagaimana aku jatuh cinta seperti halnya saat kita pertama kali berjumpa. Andaikan aku seperti doraemon yang mempunyai mesin waktu, hanya satu hal yang ingin ku lakukan, aku ingin merubah apa yang pernah terjadi diantara kita. Ya aku sanggup melepasmu tapi tidak melupakanmu. Apakah kamu sudah mendapatkan wanita yang lebih baik dariku ? Aku tak tau apakah aku akan tegar ketika sampai di titik, dimana aku tau kamu telah tersenyum bersama wanita lain. Mengapa melupakanmu tak semudah mengagumimu ?
          Aku heran pada diriku sendiri, aku benci pada hatiku, yang masih belum bisa menghapus seluruh kisah kita. Apa kabarmu sekarang ? Apakah kamu baik-baik saja ? Semoga kamu baik-baik saja disana, dikota yang berbeda. Jika aku boleh jujur, akan ku katakan padamu, “Aku rindu padamu, aku rindu perhatianmu, aku rindu sapaanmu dikala aku membuka mataku dipagi hari, aku rindu ucapanmu saat aku akan memejamkan mataku kala malam, aku rindu dekapan cintamu yang penuh dengan kehangatan bahkan mengalahkan kehangatan mentari, aku rindu suara indahmu yang selalu membangunkanku dari tidur lelapku.” Aku rindu bagaimana kamu memanggilku, “Sayang.” Saat bersamamu, gengsiku seketika lenyap, yang ada hanyalah kejujuran dan kepolosan. Saat kamu hadir, terasa ada pelangi indah disaat aku menjalani hariku. Namun disaat kamu melangkah pergi, seakan-akan pelangi itu langsung menjadi hujan yang tak pernah berhenti hingga saat ini.
          Aku tak tahu mengapa sesulit ini melupakanmu. Andai logikaku dapat mempengaruhi hatiku. Disetiap malam sebelum aku tidur, masih saja terus terbayang kenangan indah itu. Terbayang bagaimana wajahmu selalu mengisi hariku, tawamu yang selalu membuatku tersenyum, dan candamu yang menyemangatiku. Namun aku tersadar, bahwa kamu bukanlah milikku lagi. Bukan seseorang yang selalu disisiku lagi, menghapus air mataku, dan menguatkan aku dikala aku terjatuh. Belum ku dapati lagi seseorang sepertimu, yang bisa membuatku nyaman seperti tak ada masalah. Belum ada yang bisa menggantikan posisimu dan membuatku jatuh cinta seperti saat cinta itu memilihmu. Entah mengapa seperti itu, aku pun tak tahu. Jangan tanyakan apapun padaku, tanyakan saja pada mataku yang tak mungkin berbohong.

Sekian..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar