Tawamu selalu membuatku tersenyum. Tersenyum walau kadang tak
ada yang lucu ataupun menggelitik. Senyum yang mengembang di pipimu selalu
memperindah setiap hariku. Sapaanmu takkan pernah ku lupakan walau kamu tak lagi
disisiku. Suaramu yang selalu menjadi nada terindah untuk telinga ini. Akupun
hanyalah aku, seseorang yang pernah selalu disisimu. Tak pernah ada ragu dihati
ini mengenai kamu, hatiku tak pernah ragu untuk memilihmu. Kamu yang menguatkan
aku untuk beberapa bulan, tetapi kamu jugalah yang membuatku terpuruk oleh
kesedihan ini. Kita selalu berangan bersama untuk masa depan kita, selalu
saling mendukung satu sama lain. Terus membawaku hanyut ke dalam mimpi yang
kini tinggalah mimpi yang semu.
Seperti badai,
yang tiba-tiba menghancurkan segalanya, kamu mengucapkan itu dengan,
“Bismillah.” Tampaknya kamu telah begitu yakin dengan hatimu untuk
melepaskanku. Seperti datangnya tsunami, yang tidak meninggalkan sedikitpun
bekas, kamu pun dengan polosmu berkata, “Kini kamu tak ada lagi dihatiku.”
Dengan senyum yang ku paksakan untuk tegar, aku menerima dengan keikhlasan. Perbedaan
itu kini semakin nyata saat kamu pergi. Perbedaan yang tidak akan pernah dapat
dipersatukan seperti halnya air dan api. Sekeras apapun kita berusaha, takkan
ada yang berubah dari perbedaan itu. Kamu dan aku berbeda walaupun dulunya kita
bersama.
Melupakanmu
terlihat seperti kabut tebal tetapi itu lebih baik daripada jurang masa lalu
kita, walaupun dibawah jurang itu terdapat taman yang begitu indah. Kita pernah
bersama untuk beberapa waktu, mengarungi cinta tanpa peduli rintangan yang
menghadang. Aku seperti selalu kuat saat kamu ada, dan terasa lemah saat kamu
pergi. Cinta kita telah berakhir namun tidak dengan hatiku yang selalu memilihmu.
Namamu kan selalu terukir manis dihidupku.
* Untukmu yang terkasih, yang telah jauh di pulau sulawesi
bagian selatan
Yang kini
telah berbahagia :”)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar