Terus
ku jalani setiap hariku walau kini kamu tak lagi disisiku. Terus ku rekahkan
senyum di pipi ini dengan mengandalkan potongan hati yang masih tersisa.
Tanggal dan bulan tak pernah berubah namun hati yang menjalani semua itulah
yang berbeda. Senyumku tak lagi seperti dulu saat bersamamu, tak selebar saat
dekat denganmu, tak seindah saat ditemani oleh sosokmu.
Seperti layaknya hukum ekonomi, “Modal
sedikit, menghasilkan hasil sebanyak-banyaknya.” Seperti itulah aku dengan
modal potongan hati yang tersisa, aku terus mencoba mencari penggantimu yang
kini mungkin telah mendapat penggantiku di selatan sana. Kamu terlihat terlalu
serakah, bahkan terlampau serakah. Kamu mencuri hatiku, dan hanya menyisakan
potongan-potongan yang membuatku tak berdaya.
Sepotong hatiku seperti halnya
sepotong coklat. Yang kecil dan tak mampu memberi kepuasan. Namun kadang
membuat orang menjadi penasaran dengannya. Keyboard dilaptopku pun seperti
lepas, tak ingin untuk ditekan oleh jemariku. Kata-kataku pun seperti habis
saat berbicara tentang sepotong hati yang tersisa.
Aku
pun tampak seperti seorang petani, yang sedang mencari bibit yang tepat untuk
ku tanamkan diladang hati. Bibit yang mampu membuat hatiku kembali utuh dan
bibit yang kuat. Aku tak ingin lagi disuatu hari nanti, hatiku hanya menjadi
potongan kembali. Sudah cukup saat ini hatiku hanyalah seperti potongan coklat.
Yang terus mencair , hingga akan tak bersisa.
Syukurnya kali ini aku sudah menjadi
petani yang sukses. Aku sudah muali mendapat bibit yang cocok diladang hati ini.
Ya semoga bibit ini bukanlah sembarang bibit seperti lainnya. Semoga bibit ini
menjadi bibit yang benar-benar tepat, dan akan tumbuh subur. Bukan hanya bibit
yang terlihat baik tetapi sebenarnya tidak baik.
Sekian
..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar