Selasa, 19 Juni 2012

Sepotong hati yang tersisa


Terus ku jalani setiap hariku walau kini kamu tak lagi disisiku. Terus ku rekahkan senyum di pipi ini dengan mengandalkan potongan hati yang masih tersisa. Tanggal dan bulan tak pernah berubah namun hati yang menjalani semua itulah yang berbeda. Senyumku tak lagi seperti dulu saat bersamamu, tak selebar saat dekat denganmu, tak seindah saat ditemani oleh sosokmu.
          Seperti layaknya hukum ekonomi, “Modal sedikit, menghasilkan hasil sebanyak-banyaknya.” Seperti itulah aku dengan modal potongan hati yang tersisa, aku terus mencoba mencari penggantimu yang kini mungkin telah mendapat penggantiku di selatan sana. Kamu terlihat terlalu serakah, bahkan terlampau serakah. Kamu mencuri hatiku, dan hanya menyisakan potongan-potongan yang membuatku tak berdaya.
          Sepotong hatiku seperti halnya sepotong coklat. Yang kecil dan tak mampu memberi kepuasan. Namun kadang membuat orang menjadi penasaran dengannya. Keyboard dilaptopku pun seperti lepas, tak ingin untuk ditekan oleh jemariku. Kata-kataku pun seperti habis saat berbicara tentang sepotong hati yang tersisa.
Aku pun tampak seperti seorang petani, yang sedang mencari bibit yang tepat untuk ku tanamkan diladang hati. Bibit yang mampu membuat hatiku kembali utuh dan bibit yang kuat. Aku tak ingin lagi disuatu hari nanti, hatiku hanya menjadi potongan kembali. Sudah cukup saat ini hatiku hanyalah seperti potongan coklat. Yang terus mencair , hingga akan tak bersisa.
          Syukurnya kali ini aku sudah menjadi petani yang sukses. Aku sudah muali mendapat bibit yang cocok diladang hati ini. Ya semoga bibit ini bukanlah sembarang bibit seperti lainnya. Semoga bibit ini menjadi bibit yang benar-benar tepat, dan akan tumbuh subur. Bukan hanya bibit yang terlihat baik tetapi sebenarnya tidak baik.

Sekian ..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar