Jumat, 08 Juni 2012

terselimut kabut rindu


Tak ada yang salah dengan rindu. Rindu adalah salah satu anugerah Tuhan yang harus disyukuri oleh semua umatnya dibenua manapun. Rindu itu seperti kabut putih keabu-abuan yang tebal, jauh lebih tebal dari apapun. Kabut yang menunjukkan bahwa tak ada jalan lagi , yang terus saja mengganggu pandangan mata ini. Seperti halnya cinta, rindu juga selalu menyimpan misteri hidup didalamnya.
          Namun ada satu hal yang salah dari rindu. Mungkin bukan rindu tetapi dimana rindu itu ada. Jauh disudut kota Melbourne ,terlihat seorang gadis putih. Memandang sudut kota itu dengan mata coklatnya yang indah. Bukan baru sehari ia kehilangan kekasih pujaannya itu dan bukan baru sebulan ia telah mencoba mengikis rasa rindu yang dirasakannya. Rindu itu seperti telah mengalir didarahnya dan sulit tuk dipisahkan.
          Disuatu malam yang dingin,ia terduduk menatap langit benua Australia yang bertaburan dengan bintang. Sejenak ia berpikir, “Andaikan langit dan bintang itu seperti aku dan dia, tak ada yang mampu memisahkan aku dan dia.” Tiba-tiba handphonenya pun berdering, seakan ingin mengagetkannya untuk tegar.
Tak lama kemudian, ia melihat sedikit kenangannya bersama kekasih hatinya itu. Dan rindu yang dirasakannya pun semakin memuncak, terus memuncak hingga ia tidak tau bagaimana harus menekan rasa itu. Ia pun mengingat kepada Sang Pencipta, ia berlari ke sudut kamarnya. Ditempat itulah ia berbincang-bincang dengan Tuhan, dan menyebut nama mantan kekasihnya itu. Tangis pun oecah saat ia bercakap-cakap dengan Tuhannya. Ia hanya sedikit menyesali, mengapa mereka harus dipertemukan jika harus berujung dengan perpisahan. Setelah ia berdoa, perasaannya pun menjadi lebih lega. Kini ia hanya bisa mencoba kuat dan menepis rindu itu.

Sekian..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar