Tak
ada yang salah dengan rindu. Rindu adalah salah satu anugerah Tuhan yang harus
disyukuri oleh semua umatnya dibenua manapun. Rindu itu seperti kabut putih
keabu-abuan yang tebal, jauh lebih tebal dari apapun. Kabut yang menunjukkan
bahwa tak ada jalan lagi , yang terus saja mengganggu pandangan mata ini.
Seperti halnya cinta, rindu juga selalu menyimpan misteri hidup didalamnya.
Namun ada satu hal yang salah dari
rindu. Mungkin bukan rindu tetapi dimana rindu itu ada. Jauh disudut kota
Melbourne ,terlihat seorang gadis putih. Memandang sudut kota itu dengan mata
coklatnya yang indah. Bukan baru sehari ia kehilangan kekasih pujaannya itu dan
bukan baru sebulan ia telah mencoba mengikis rasa rindu yang dirasakannya. Rindu
itu seperti telah mengalir didarahnya dan sulit tuk dipisahkan.
Disuatu malam yang dingin,ia terduduk
menatap langit benua Australia yang bertaburan dengan bintang. Sejenak ia
berpikir, “Andaikan langit dan bintang itu seperti aku dan dia, tak ada yang
mampu memisahkan aku dan dia.” Tiba-tiba handphonenya pun berdering, seakan
ingin mengagetkannya untuk tegar.
Tak
lama kemudian, ia melihat sedikit kenangannya bersama kekasih hatinya itu. Dan
rindu yang dirasakannya pun semakin memuncak, terus memuncak hingga ia tidak
tau bagaimana harus menekan rasa itu. Ia pun mengingat kepada Sang Pencipta, ia
berlari ke sudut kamarnya. Ditempat itulah ia berbincang-bincang dengan Tuhan,
dan menyebut nama mantan kekasihnya itu. Tangis pun oecah saat ia bercakap-cakap
dengan Tuhannya. Ia hanya sedikit menyesali, mengapa mereka harus dipertemukan
jika harus berujung dengan perpisahan. Setelah ia berdoa, perasaannya pun
menjadi lebih lega. Kini ia hanya bisa mencoba kuat dan menepis rindu itu.
Sekian..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar